Merayakan Perpisahan Menyambut Pertemuan

Ada dua hal yang sedang khusyuk berdiam diri, menanti aksi untuk dieksekusi. Hal pertama adalah tentang sebuah perpisahan yang ternyata bisa dirayakan. Kedua, tentang pertemuan dengan orang lain, singkat, tapi mengesankan. Saya menyebutnya dengan seseorang yang berada di persilangan waktu.

Beberapa hari lalu waktu lalu, saya menulis tentang perpisahan, yang waktu itu saya bilang bahwa tidak ada perpisahan yang baik-baik saja, jika baik-baik saja tentu mereka tetap bersama. Ternyata, hal itu tidak berlaku di konteks tertentu. Bahkan, perpisahan cenderung dipersiapkan lalu dirayakan dengan haru dan suka cita. Sedih tapi bahagia. Rindu, padahal masih ketemu. Haru.

Bagaimana bisa sebuah perpisahan terjadi, tapi malah dirayakan?

Kamu pernah mengikuti perpisahan sekolah? Perpisahan magang? Perpisahan kakak kelas? Perpisahan warga? Perpisahan setelah mengikuti AIYEP 37 2018/2019 misalnya.

Perpisahan dipersiapkan, pertemuan disambut.

Bahkan, terkadang, kita bisa juga merayakan perpisahan. Tapi memang, jika pertemuan dan perpisahan sudah dikotakkan ke dalam dua insan manusia berjenis kelamin berbeda dan dibumbui rasa, maka akan lain jalan ceritanya.

Seperti pertemuan Budi dengan seseorang yang ada di persilangan waktu belum lama ini.

Kata Budi, ia ketemu dengan perempuan yang entah bakal ketemu lagi atau tidak. Tetapi, persilangan waktu itu mengatakan, Budi berjabat tangan, Budi berkenalan, Budi memotret diam-diam, Budi merekam dan mengumpulkan informasi untuk sekadar menambah amunisi. Meski, tak tahu pasti, kapan ‘perang’ dimulai.

Akal Budi bilang, bahwa ia seperti melihat masa depan. Entah berkhayal atau tidak, ia bilang bahwa masa depannya ada di orang yang ada di persilangan waktu itu. Berharap kepada sang pemilik waktu bakal mempertemukan lagi, di belahan bumi lain yang tidak bakal dimengerti. Siapa yang tahu bahwa esok akan bertemu lagi dengan seseorang yang hanya bertemu di persilangan waktu? Tapi Budi memang berdoa, ada persilangan, pemjumlahan dan pembagian waktu untuk Budi dan orang itu.

Apakah kamu pernah mengalami hal yang sama seperti si Akal Budi?

Sepertinya, Tuhan memang menciptakan pertemuan dan perpisahan dengan sangat sengaja. Menjadikannya sepasang. Sebagaimana Tuhan menciptakan segala makhluk yang ada di bumi dengan berpasang-pasangan.

Pada detik ini, akhirnya segala hal yang terlampaui, tentang ilmu yang kupelajari, tentang pertemuan demi pertemuan yang terjadi, perpisahan yang disengaja atau tidak sengaja, tentang garis waktu, tentang mencari sebuah titik, tentang visi-misi, tentang keputusan demi keputusan dan kamu yang sedang membaca tulisan ini adalah bagian dari energi yang tidak bisa kita jelaskan, tapi bisa kita pelajari. Apa yang sedang saya lakukan ini adalah sekadar untuk memahami, kalau memang inti hidup manusia adalah beribadah kepada Tuhan, menyiapkan bekal perjalanan, maka Ibadah yang bagaimana dan seperti apa yang perlu dan wajib kita lakukan?

Dulu, saya pernah berkhayal, bagaimana jika aku ini adalah makhluk, tapi tidak manusia? Tapi, pikiran itu sesaat kemudian pergi entah kemana yang tidak mau lagi saya cari.

Terima kasih, Tuhan. Engkau telah mengutusku ke bumi. Semoga aku menjadi salah satu hambamu yang bisa bermanfaat kepada sesama.

Terima kasih atas kesempatan yang silih berganti. Terim kasih atas doa-doa yang menjadi nyata. Terima kasih atas segala nikmat. Terima kasih atas segala berkat, martabat dan ilmu yang bermanfaat.

Alhamdulillah, masih banyak orang baik dan hal baik di bumi. Ampuni kami, tolong kami, lindungi kami.

***

Siapakah kita ini, manusia

Yang dalam diam riuh, ragu dan tak mampu

Ada rahasia, tidak rahasia

Ada di sini ada di situ

Diseret-seret waktu

Kita berjalan masih terus berjalan

Meskipun kita tak tahu berapa jauh jalan ini nanti

Dan kita tak juga rela

Tunduk pada jarak

Dan kita tak juga rela

Tunduk pada jarak

Kita berjalan saja masih

Selalu berjalan

Meskipun kita tak kunjung tahu

Ujung jalan ini

Dan kita tak juga kan terhenti

Selalu berjalan

Dan kita tak kan terhenti

Selalu berjalan

Bertahankah kita ini manusia

Yang dalam riang ringkih

Rumit dan terhimpit

Ada bahagia tidak bahagia

Ada di sini ada di sana

Ditikam-tikam rasa

Kita berjalan saja

Masih terus berjalan

Meskipun kita tak tahu

Berapa jalan ini nanti

Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak

Dan kita tak juga rela tunduk pada jarak

Kita berjalan saja masih

Selalu berjalan

Meskipun kita tak kunjung tahu

Ujung jalan ini

Dan kita tak juga kan terhenti

Selalu berjalan

Dan kita tak kan terhenti

Selalu berjalan

Lagu Pejalan – Sisir Tanah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s