Estetika Komitmen Untuk Berkomitmen Pada Komitmen.

Sebagai wujud serakah yang dibalut dengan tujuan meraup hikmah, maka saya ngutang dua buku. Pertama adalah Si Parasit Lajang, karya Ayu Utami. Kisah seorang wanita yang di akhir usia 20-an, memutuskan untuk tidak menikah dengan 10+1 alasan yang dibuatnya. Kedua adalah buku karya Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, Rancang Bangun.

Bukune Mbak Ayu Utami, Trilogi. Baru mau baca yang ini

Dalam Rancang Bangun, kedua penulis menyajikan pemikiran sains terkini mengenai misteri alam semesta dalam bahasa nonteknis yang cemerlang sekaligus sederhana. (Kutipan dari sampul).

Kucing beranak yang tinggal di rumah Om
Sengaja bikin foto begini, biar bisa diunggah. 😁

Selebihnya, saya belum saya baca. Tapi, saya beranggapan. Semeste terkecil adalah manusia dengan segala unsur yang ada di dalamnya. Mulai dari panca indera semua organ, sel dan segala sesuatu yang beredar.

Beberapa hari lalu, di twitter ada sebuah akun yang sambat dan menyatakan ingin bunuh diri secara tersirat. Dan beberapa hari kemudian, ditemukan seorang mahasiswa yang tewas di kosannya. Pie lur?

Cangkeme awae dewe ki kadang kakean nyacat lan bacot. Sambat diarani rakuat. Ra lanang. Bandang nek wes mati, pie lek arep baleni?

Makanya, saya selalu berusaha menyikapi segala persoalan yang dipersoalkan temenku, teman curhatku, mantanku atau siapa pun itu, saya sikapi dengan serius. Serius itu tidak selalu identik dengan tegang, tidak identik dengan srudak-sruduk, tidak identik dengan kamu selalu ada, tidak. Tapi serius itu sikap.

Sikap yang gimana? Sikap yang waktu dicurhatin itu reliable, ah mbuh bahasane opo. Pokoe, sikap seng pas. Sesuai konteks. Angel opo ora bersikap sesuai konteks kui, tergantung pribadi masing-masing.

Kalau ada kawanmu, teman chat pun, yang nggak pernah kamu temui atau siapapun yang ‘minta’ tolong ke kamu, apalagi soal masalah. Saya minta kamu, iyain. Minimal dengerin. Kalau dia bisa cerita, sukur. Kalau nggak, paling tidak kamu sudah nemenin. Ra peduli lanang po wedok.

Meskipun cuma sekadar, nemenin dengan telpon yang tidak bersuara. Atau syukur-syukur, mbok jak ngopi, mbok jak jajan, mbok jak piknik, utowo mbok jak ngopo wae. Ra ketang gur nongkrong neng ngarep ngomah sinambi youtuban.

Gunane opo? Niati bismillah, kui ngibadah. Nulung. Kadang wong ra butuh duit, tapi butuh konco. Tapi wong seng ra butuh konco gur butuh duite yo enek. Asal udu kowe, ok?

Paling ora, nek misal wonge ngawur pengen mati, ngawur pengen leren seko urep, kowe ijek nengkono, kadang ra perlu dicegah, nek yo ojo mbok tantang. Pokoe kancani, mudeng ora tekan kene?

Saiki opo pentinge urep nek dewekne wes rumongso radue harapan go urep?

Terus iki, nek topik pembicaraanmu iseh berkutat neng kapan lulus, kapan rabi, kapan duwe anak, kapan tambah anak, lan hal kapan liane, kapan cangkemu iso ngatur kui? Sesok tak lakban lambemu, tak ketak ndasmu, tak jijek raimu. Tekan semene paham?

Wes sering krungu, kan, tiap orang punya garis waktu dewe. Raiso mbok olor, raiso mbok cendekne.

Nek wayahe tekan, mesti tekan. Opo meneh duwe tekan lan tekun. Tekan-tekan. Wes to.

Kowe iso menghormati ngunukui ora? Logikamu iso tekan semono ora? Tekan ra tekan, aku ra peduli.

Hari ini, 31 Januari 2019. Aku mengukuhkan diri bahwa, saya telah lebih baik daripada bulan kemarin dalam hal menulis. Ini adalah tulisan ke-31, di bulan Januari. Berbagai tema, berbagai tulisan, berbagai sudut pandang dan berbagai cerita. Awal bulan januari kemarin memang ada tagar berupa tiga puluh hari bercerita, saya ikut menggunakan? Tidak! Yang saya lakukan adalah komitmen untuk menulis setiap hari. Bukan hanya post, tapi benar-benar saya tulis hari itu, saya post hari itu juga.

Susah? Tantangan saya selama menulis sebulan ini adalah di jaringan. Saya sangat khawatir, jika tidak bisa post sehari satu. Cara cerdiknya adalah menyempatkan menulis setiap saat, setiap waktu. Di sela-sela istirahat, di sela-sela makan, di sela-sela mau tidur, di sela-sela apapun. Asal, bisa tetap menulis. Ide dari mana? Ada yang saya siapkan semalam atau sehari sebelumnya. Ada yang pas saat itu niat mau menulis, lalu terpikir. Seperti artikel “Kemana Hati Nurani Pergi“, waktu itu pas saya mengirim artikel ke media online. Jadi saya perlu menulis dua artikel dalam sehari. Ajaib, ternyata bisa dan tulisanku juga lumayan. Menulis dengan apa? Saya menulis dengan HP kesayangan. Pernah, suatu saat saya menulis di laptop. Tapi entah berapa tulisan tidak tahu. Yang kuinget dan tercatat di catatan gawai lebih banyak. Artinya, nulis di Gawai, sunting di gawai bahkan saya post lewat gawai. Nampak sesederhana itu. Banyak yang baca? Terbanyak 92 pembaca dalam sehari. Terendah, 4 kalau nggak salah.

Saya beri folder “Menjadi Manusia”. Biasanya saya tulis di note, lalu saya copaste di aplikasi WordPress, edit, post.

Dan dua atau tiga terkahir ini saya tidak membuat update tulisan. Baik di WA status maupun di IG stories. Karena apa? Karena nggak mau dan beberapa pertimbangan lain, misalnya, peduli setan orang bakal baca atau tidak. Yang saya lakukan adalah jika saya peduli, jika saya mau, ya saya cari sendiri tanpa peu update-an status orang tersebut.

Meskipun tetap ada yang nanya, hari ini nggak ada tulisan baru?

Apa yang bisa saya pelajari? komitmen dalam diri itu lebih penting dan berpengaruh daripada ribuan janji yang tertulis. Akhirnya saya paham estitika dari komitmen untuk berkomitmen pada komitmen.

Apa yang bisa saya bagi? Jika kamu suka tantangan, tantanglah dirimu dengan skala terkecil, lalu ulangi lagi tantangan itu sampai kamu sampai pasa tantangan besarmu. Jika kamu suka dengan iming-iming, hadiah, maka berikan hadiah harian, sesederhana apapun bentuk hadiahnya. Berikan. Sampai pada kamu perlu untuk memberi dirimu dengan penghargaan tertinggi.

Kita adalah makhluk serba bisa dengan ketidakbisaannya. Kamu bisa jadi superior di satu waktu, tapi di waktu lain juga bisa jadi inferior.

Yen enek istilah “aku karo kowe kui podo wae”, ojo percoyo. Awae dewe bedo, lahire, kembang tumbuhe, cara berpikir, cara bersikap, perasaan, pengalaman, dandan, katokan dan hal deng printil lainnya. Kui bedo. Andai ada kesamaan, kui mergone kowe, aku, lan liane gelem madakne, mudunke ego, mudunke hasrat untuk a, b, c. Mergo opo? Mergo nyadar, bahwa urep kui bersama, meski ora kudu podo.

Tekan semene paham?waktu dicurhatin itu reliable, ah mbuh bahasane opo. Pokoe, sikap seng pas. Sesuai konteks.

Kalau ada kawanmu, teman chat pun, yang nggak pernah kamu temui atau siapapun yang ‘minta’ tolong ke kamu, apalagi soal masalah. Saya minta kamu, iyain. Minimal dengerin. Kalau dia bisa cerita, sukur. Kalau nggak, paling tidak kamu sudah nemenin. Ra peduli lanang po wedok.

Meskipun cuma sekadar, nemenin dengan telpon yang tidak bersuara. Atau syukur-syukur, mbok jak ngopi, mbok jak jajan, mbok jak piknik, utowo mbok jak ngopo wae. Ra ketang gur nongkrong neng ngarep ngomah sinambi youtuban.

Gunane opo? Niati bismillah, kui ngibadah. Nulung. Kadang wong ra butuh duit, tapi butuh konco. Tapi wong seng ra butuh konco gur butuh duite yo enek. Asal udu kowe, ok?

Paling ora, nek misal wonge ngawur pengen mati, ngawur pengen leren seko urep, kowe ijek nengkono, kadang ra perlu dicegah, nek yo ojo mbok tantang. Pokoe kancani, mudeng ora tekan kene?

Saiki opo pentinge urep nek dewekne wes rumongso radue harapan go urep?

Terus iki, nek topik pembicaraanmu iseh berkutat neng kapan lulus, kapan rabi, kapan duwe anak, kapan tambah anak, kapan cangkemu iso ngatur kui? Sesok tak lakban lambemu, tak ketak ndasmu, tak jijek raimu. Tekan semene paham?

Wes sering krungu kan, tiap orang punya garis waktu dewe. Raiso mbok olor, raiso mbok cendekne.

Kowe iso menghormati ngunukui ora? Logikamu iso tekan semono ora? Tekan ra tekan, aku ra peduli.

Hari ini, 31 Januari 2019. Aku mengukuhkan diri bahwa, saya telah lebih baik daripada bulan kemarin dalam hal menulis. Ini adalah tulisan ke-31, di bulan Januari. Berbagai tema, berbagai tulisan, berbagai sudut pandang dN berbagai cerita. Awal bulan januari kemarin memang ada tagar berupa tiga puluh hari bercerita, saya ikut menggunakan? Tidak! Yang saya lakukan adalah komitmen untuk menulis setiap hari. Bukan hanya post, tapi benar-benar saya tulis hari itu, saya post hari itu juga.

Tangkapan layar jumlah Post

Susah? Tantangan saya selama menulis sebulan ini adalah di jaringan. Saya sangat khawatir, jika tidak bisa post sehari satu. Cara cerdiknya adalah menyempatkan menulis setiap saat, setiap waktu. Di sela-sela istirahat, di sela-sela makan, di sela-sela mau tidur, di sela-sela apapun. Asal, bisa tetap menulis. Ide dari mana? Ada yang saya siapkan semalam atau sehari sebelumnya. Ada yang pas saat itu niat mau menulis, lalu terpikir. Seperti artikel soal ini, waktu itu pas saya mengirim artikel ke media online. Jadi saya perlu menulis dua artikel dalam sehari. Ajaib, ternyata bisa dan tulisanku juga lumayan. Menulis dengan apa? Saya menulis dengan HP kesayangan. Pernah, suatu saat saya menulis di laptop. Tapi entah berapa tulisan tidak tahu. Yang kuinget dan tercatat di catatan gawai lebih banyak. Artinya, nulis di Gawai, sunting di gawai bahkan saya post lewat gawai. Nampak sesederhana itu. Banyak yang baca? Terbanyak 92 pembaca dalam sehari. Terendah, 4 kalau nggak salah.

Statistik TheMenjadiManusia

Dan dua atau tiga terkahir ini saya tidak membuat update tulisan. Baik di WA status maupun di IG stories. Karena apa? Karena nggak mau dan beberapa pertimbangan lain, misalnya, peduli setan orang bakal baca atau tidak. Yang saya lakukan adalah jika saya peduli, jika saya mau, ya saya cari sendiri tanpa peu update-an status orang tersebut.

Meskipun tetap ada yang nanya, hari ini nggak ada tulisan baru?

Apa yang bisa saya pelajari?

komitmen dalam diri itu lebih penting dan berpengaruh daripada ribuan janji yang tertulis. Akhirnya saya paham estitika dari komitmen untuk berkomitmen pada komitmen.

Apa yang bisa saya bagi? Jika kamu suka tantangan, tantanglah dirimu dengan skala terkecil, lalu ulangi lagi tantangan itu sampai kamu sampai pada tantangan besarmu. Jika kamu suka dengan iming-iming, hadiah, maka berikan hadiah harian, sesederhana apapun bentuk hadiahnya. Berikan. Sampai pada kamu perlu untuk memberi dirimu dengan penghargaan tertinggi.

Kita adalah makhluk serba bisa dengan ketidakbisaannya. Kamu bisa jadi superior di satu waktu, tapi di waktu lain juga bisa jadi inferior.

Yen enek istilah “aku karo kowe kui podo wae”, ojo percoyo. Awae dewe bedo, lahire, kembang tumbuhe, cara berpikir, cara bersikap, perasaan, pengalaman, dandan, katokan dan hal deng printil lainnya. Kui bedo. Andai ada kesamaan, kui mergone kowe, aku, lan liane gelem madakne, mudunke ego, mudunke hasrat untuk a, b, c. Mergo opo? Mergo nyadar, bahwa urep kui bersama, meski ora kudu sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s