Sakit. [Eksplisit Konten 18+]

Hei, saya depresi. Yang ada di kepalaku adalah umpatan, rindu yang dibalut sedikit kemunafikan, kemudian rencana pembunuhan yang aku sendiri telah membatalkan. Sialan. Saya tak punya kawan cerita, orang-orang di sekitarku sibuk semua. Mereka sibuk mengurus hidupnya masing-masing. Lupa. Saya juga sibuk. Sibuk mencari apa yang terjadi dengan diri ini.

Saya ingin kau mati saja, mantan kekasih. Akan kubawakan karangan bunga melati, yang wangi, yang akan kutancapkan langsung di tanah pemakamanmu.

Huufft..

Sepertinya aku sudah terjangkit sakit akut. Yang aku sendiri tidak tahu, bagaimana cara mengobatinya.

Repotnya orang sepertiku ini adalah orang lain tidak akan pernah percaya jika aku menyerah, stres bahkan depresi. Kebiasaan ngomong soal motivasu yang dibalut cerita itu membuat orang lain barasumsi bahwa oh, si A itu hebat, kuat, dia bisa A dan B. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah dia sedang memotivasu dirinya, dia sedang menguatkan dirinya, dia sedang bicara kepada dirinya.

Apa orang-orang itu tidak bisa membedakan, mana yang untuk diri sendiri mana yang ditujukan untuk orang lain?

Aku serius, aku depresi. Aku stres. Aku sedang butuh bantuan untuk bisa menyakinkan kembali diriku. Semenyedihkan itu memang. Tapi orang-orang pasti tetap tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Semisal, “kamu nggak mungkin, depresi. Kamu bisa tahu dirimu, kamu bisa mengelola dirimu dengan baik”.

Tidak, aku benar-benar butuh seseorang yang mengatakan kepadaku, tentang ini itu.

Aku menyerah. Tapi tidak mau kalah.

Jadi apa yang saya lakukan? Bercerita kepada seorang kawan baikku. Yang mau menjadi telinga, teman curhat dan selalu ada. Sama seperti orang-orang butuh telingaku, maka saya ada untuk mereka. Hanya, kasusnya kali ini teebalik.

Saya tidak tahu, apakah ini termasuk titik lemahku. Tapi, yang pasti, saya menyadari penuh bahwa sedang depresi, sedang stres dan sedang dalam proses ‘penyembuhan’ salah satu penyakit mental.

Saya tidak narkoba, tidak free sex, tidak pula minum-minuam keras. Tapi saya punya kelainan sikap, yang belum bisa saya ceritakan di sini, paling tidak untuk sekarang. Saya sedang menjadikan diri saya sendiri sebagai objek observasi, apakah benar, teori yang selama ini saya terima itu benar adanya. Apakah benar, yang saya alami ini bisa dikatakan sebagai sakit yang lebih berbahaya daripada pengguna narkoba? Apakah benar, imbas dari sikap mental ini adalah sebegitu besar bahayanya?

‘Sakit’ yang saya alami adalah dehidrasi pujian dan dehidrasi apresiasi. Sebegitunya diri saya. Tapi itu nyata dan saya perlu mengungkapkannya. Saya pikir dan saya menebak, saya tidak sendiri.

Intinya, apa yang sedang saya lakukan adalah demi kemaslahatan diri saya sendiri dan jika saya berhasil melewati, menyembuhkan sakit mental ini, ya syukur alhamdulillah. Saya mau hidup normal.

Meski tidak sepenuhnya, bahwa apa yang saya lakukan adalah hal yang salah (ini murni pembelaan).

Tetapi, hal yang wajar, akan menjadi tidak wajar jika sudah berlebihan.

Makan, minum, bicara, marah, sedih, kecewa, patah, dengki, iri, cinta, rindu, sayang dan segala rasa itu masih wajar jika sesuai konteks dan konten, tapi jika salah satu sikap tersebut menjadi berlebihan itu yang menjadi tidak wajar.

Saya percaya, bahwa menjadi manusia adalah amanah. Saya percaya, jika kita ini manusia, bearti memang mampu untuk jadi manusia, perkara utuh atau tidak. Itu tergantung pribadi masing-masing.

Bagaimana menentukan kadar keutuhan manusia? Menurut yang saya pelajari, bisa dengan dua kategori. Pertama, mampu menggunakan nuraninya dengan baik yang diikuti oleh naluri. Kedua, bisa berdamai dengan diri sendiri, apapun yang terjadi.

Manusia tidak mengenal dendam, manusia tidak mengenal dengki, pun manusia tidak mengenal serakah. Segala sesuatu yang melebih sifat hewan, aku berpendapat bahwa orang-orang demikian telah turun derajatnya dibanding dengan manusia lainnya. Manusia normal, bekerja dengan nurani dan naluri. Yang diseimbangkan dengan asas-asas kemanusiaan.

Terima kasih untuk kamu yang sudah mau menjadi orang yang mau mendengarkanku, dengan penuh perhatian dan seksama. 🙂

Hari ini, aku menyatakan diri menyerah. Karena kenyataan belum sesuai harapan. Klise memang. Kenapa saya mengaku menyerah? Karena saya juga manusia. Saya bukan robot, saya punya titik tertentu yang di tingkat tersebut ya marah-marah, ya sedih bahkan menangis.

Hari ini aku mau menyerah, tapi Allah melarangku untuk melakukan itu. Belum saatnya aku berhenti. Perjalanan ini masih panjang, meski kita tak tahu panjang jalan ini.

Terima kasih, aku cinta hobiku. Aku cinta hari ini. Aku cinta diriku.

O ya, kapan menikah? Pertanyaan yang biasanya aku jawab dengan ngawur dan suka-suka jidat, maka ijinkan kali ini aku menjawab, aku menikah ketika telah menemukanmu. Aku tidak mau menikah dengan orang yang aku inginkan. Tapi aku mau menikah dengan yang aku butuhkan. Seperti apa dia? Kuceritakan lain waktu.

TNB

Advertisements

4 thoughts on “Sakit. [Eksplisit Konten 18+]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s