Yang Selalu Melegakan

Dukung tidak dukung, senang tidak senang, doain atau tidak, saya berterim kasih kepada siapapun yang senantiasa membaca dan mengikuti update dari blog ini. Ini memasuki bulan ketiga aktif di wordpress, bulan kedua di kota baru, pekerjaan baru, aktivitas baru, tempat baru, bentar lagi juga insyaAllah ada yang baru. Muehehe.

Dua bulan, cerita apa ya?

Kamu mau diceritain soal apa? O ya, aku sudah dalam keadaan baik. Gimana caranya? Aku sendiri juga tidak bisa menjelaskan. Mengalir, tahu-tahu ya baik. Aneh? Bisa jadi tidak bisa juga memang aneh.

Filosofinya gini, air panas yang ditaruh dalam gelas, lama-lama akan dingin. Meski tanpa ditiup. Tanpa dikipasin. Keknya saya begitu juga. Pokoknya tahu-tahu enak, tahu-tahu nyaman, tahu-tahu ketemu. Eeeaa.

Jujur. Itu yang saya lakukan. Jujur kepada diri sendiri. Kalau sedang a, b, c, d. Tidak mengelak, tidak menolak dan tidak melawan rasa yang ada. Tapi beneran, merasa depresi dan stres dalam waktu bersamaan itu cukup berbahaya. Untung saya tidak bernyali untuk melakukan hal bodoh yang di luar nalar. Halah, jangankan hal bodoh. Hal enak yang menurutku tuntutan hukumnya sepanjang anak cucu saja aku nggak mau.

Pokoknya nggak berani. O ya, saya ingat. Tadi siang, saya sempat membelah diri menjadi dua sosok berbeda. Satu bagian menjadi orang yang depresi, satu lagi orang yang netral. Kami berdebat, tentu sambil mengumpat. Si depresi marah-marah, memarahi si netral. Si netral diem, tenang, nggak melawan. Dengerin saja apa yang dikeluarin si depresi. Sampai akhirnya si depresi diam sendiri lalu si netral pun pergi. Mereka berdua meninggalkan saya.

Saya pernah kesurupan, entah karena lelah atau karena marah. Sampai teriak-teriak, sampai menangis, sampai menyatakan diri sebagai manusia terlaknat dan terbajingan dan tak berguna.

Saya kok lebay ya? Hahahah. Nggakpapa, ini metode saya untuk melakukan komunikasi pada diri sendiri. Kok lewat menulis? Ya karena saya suka menulis. Tapi saya kira sudah tidak penting juga membicarakan hal itu.

Di perjalanan, di kawasan kebun sawit. Satu dari empat penumpang yang saya bawa bilang, “saya diberi baju sama si a. Bukan masalah bentuk pemberiannya. Tapi siapa yang memberi”. Saya kurang memperhatikan, siapa yang dibicarakan. Yang jelas, pria yang disebut sebagai pemberi baju itu adalah seorang yang punya jabatan. Entah apa.

Yang pasti, bercerita itu selalu melegakan.

Kamu kalau nggak ada temen cerita, sini cerita sama aku. Eh atau siapa teman cerita favoritmu? Apa ceritamu? Boleh dibagi? Sini-sini.

Eh, satu lagi

Sampul Buku Jejak Memaknai Hari ~ Dalam Proses
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s