Roda Gila

Berjalan di muka bumi dengan kerendahan hati. Lahir sendiri, mati pun akan sendiri. Hanya amal yang akan menemani. Terima kasih atas kehidupan ini. Terima kasih atas perjalanan ini. Terima kasih atas petualangan ini. Aku tidak sedang mencari simpati. Aku tidak sedang mencari apresiasi. Aku hanya unjuk gigi. Memberi bukti atas eksistensi diri. Melakukan apa yang telah Tuhan Beri. Jika kita tak bisa berbagi. Dengan apa kita akan kembali. Jika kita tak bisa memberi. Dengan apa kita kan kembali. Hanya ada satu kunci. Kembali menuju illahi.

Pola. Hari ini, hari terakhir untuk hitungan administrasi di angka 28. Besok, jika Tuhan berkenan. Angka itu bergulir menjadi 29. Semoga. Aku masih punya hidup, aku masih punya segalanya. Paling tidak, aku masih punya asa. Untuk tetap hidup, lalu membuat kehidupan dan menghidupi.

Besok atau nanti dini hari, saya mau membuat refleksi 28. Tentang, apa dan bagaimana perjalanan setahun, dua tahun dan tiga tahun terakhir. Adakah prestasi, adakah apresiasi, adakah esksistensi? Atau cukup dengan menikmati?

Beberapa hari lalu, aku mengaku depresi. Sedalam apa depresinya? Sampai pada mencari perhatian untuk dikasihani di sosmed. Ironi? Yap. Memang begitu adanya. Kamu kenapa depresi? Bukannya hidupmu baik-baik saja? Pekerjaan ada, internet ada, gawai ada dan hal-hal yang menurut pandangan umum, itu adalah normal.

Hei! Jangan salah. Depresi tidak mengenal tempat, jenis kelamin, profesi, usia dan hal apapun yang bersifat kepribadian. Bahkan, Curt Cobain pun sampai mengakhiri hidupnya. Ini bukan untuk membenarkan, apalagi mencari pembenaran. Ini contoh, bahwa depresi bisa mengena siapa saja. Makanya, setelah fase kemarin itu, saya bilang ke salah teman bangsatku, kalau ada seseorang yang omongannya ngelantur, ngalor ngidul, kek udah bosan hidup. Sesegeralah untuk merespon. Meskipun, responnya juga gak sembarangan. Syukur-syukur ketemu ahline. Sakit fisik udah pasti jelas bisa dilihat. Kalau sakit mental? Uluh-uluh. Hanya orang tersebut yang tahu, Tuhan dan mungkin sebagian yang peduli.

O ya, sekarang saya mau cerita soal kebahagiaan dan rasa syukur saya setelah dua bulan menjadi ajudan pribadi, asisten, driver, sekaligus bagian dari Sahabat Bagus Santoso. Ini nggak ada di google, nggak ada di sosmed. Eh tapi keknya ada deng. Baik. Pertama, kalau ada yang pengen jadi seperti saya. Maka, siapkan dulu waktu dan kerelaanmu untuk berkurang waktu istirahat dan waktu tidur. Kedua, bersiaplah dengan kejelian dalam mengatur waktu dan selalu punya cara untuk menghadapi dan mengelola stres. Wkwkwk.

Maka, saya mau berterima kasih nih, pada kawan-kawanku yang mau jadi teman curhat dan ngobrolku. Entah lewat telepon maupun WA. Ini akhir menjelang saya 29. Saya mau berdamai dengan semuanya. Pokoknya damai. Sedamai-damainya. Kedamaian hati dan pikiran kan tergantung kita sendiri. Mau ngandalin siapa?

Misal nih, kamu penasaran dengan sesuatu yang terjadi. Kamu pengen tahu, kalau yang bersangkutan nggak mau ngasih tahu gimana? Maksa? Ya kalau bisa dipaksa. Nunggu? Ya kalau mau. Gimana? Wkwkwk, mending mundur teratur.

Saya percaya, bahwa setiap pertanyaan yang ada di muka bumi, akan ada jawabannya di lain waktu. Bahkan, kalau pun tidak terjawab di dunia. Saya bercita-cita untuk menagih di akhirat.

Hahaha

Kaya roda gila, setinggi-tingginya mereka melintas, akan turun juga. Roda tetap berputar. Bumi pun masih berputar.

Ya Allah…

O sampai lupa, apa yang saya lakukan selama ngajudan, ngasisteni? Saya bangun lebih cepat dari biasanya. Saya lebih sibuk daripada biasanya. Saya lebih rajin dalam menulis. Saya tahu bahwa, a, b, c, d dan seterusnya. Saya menginjakan kaki di pulau rupat, saya ketemu masyarakat transmigrasi yang dulu hanya saya temui di buku-buku pelajaran geografi. Saya tahu, bahwa rindu itu selalu ada obatnya. Bahwa rindu itu bisa beraneka wujudnya. Bahwa rindu itu bisa diadu. Diadu dengan doa. Eh bukan diadu, tapi dikolaborasi.

Apalagi kalau rindu bapak ibu. Ya Allah..

Ya Allah, aku pernah caper. Aku pernah e, f, g, h, i. Apa sangu untuk menjajaki detik ini? Napas teratur, pikiran waras, awak sehat, mental sehat, jiwa sehat. Panjang umur hal-hal baik, hidup-hidupilah nurani, sehat-sehatlah akal sehat.

Saya senang dan berterima kasih, ya Allah kadang kok aku lucu. Wes, mari bertindak cerdas, mari bertindak waras, biar kebodohan dan kesalahanya cukup kemarin, sekarang mari kita menjadi manusia yang lebih hidup. Yeeeaaaaaah!!

Ada yang mau hidup bersama saya?

Advertisements

3 thoughts on “Roda Gila”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s