Batas

Hal yang masih menjadi kurang nyaman adalah saya sudah tahu tapi dikasih tahu. Bisa jadi sebenarnya hanya sekadar mengingatkan, tapi kalau mengingatkan berulang kali itu membosankan. Lama-lama menjengkelkan. Apalagi untuk hal remeh-temeh. Seperti, membuka jendela dan memencet klakson setiap mau meninggalkan keramaian. Kupikir sebenarnya itu bukan mengingatkan, tapi tidak sabar. Haha.

Hal lain yang kurang nyaman adalah dituntut untuk menjadi orang lain. Siapa yang mau? Saya pikir tidak ada orang yang mau jadi orang lain. Pun sebenarnya kita nggak berhak menuntut orang lain untuk menjadi seperti apa yang kita inginkan. Karena tiap orang merdeka. Klise. Memang. Tapi mana ada sekarang yang bebas. Kehidupan manusia telah menciptakan gelar, derajat, dan nilai-nilai lain yang akhirnya membuat sebagian orang memandang berbeda dan punga kuasa untuk mengatur hidup orang lain sebagaimana keinginan pribadinya. Ini aneh. Tapi memang nyata dan ada.

Manusia akan selalu suka dengan harta, tahta, wanita, anak, istri dan semua hal yang berkaitan dengan dunia. Hanya sebagian kecil manusia yang bisa memisahkan itu semua dari kehidupannya. Meskipun kita diajarkan untuk membuat kehidupan yang berimbang. Lakukan yang terbaik di dunia, untuk akhirat juga yang terbaik. Gimana prakteknya? Kalian belajar dan cari guru sendiri ya. Karena kita pasti punya cara dan pilihan guru sendiri.

Kecuali, manusia yang berkenan untuk dijadikan sebagaimana yang ia inginkan, dengan penuh kesadaran dan kerelaan. Sebagaimana seorang murid yang mencari guru beladiri. Ingat The Karate Kids? Film lawas tentang karate. Kurang lebih begitu gambaran sederhananya. Kalau nggak rela, jangan dipaksa. Inget kan, sejatinya manusia itu merdeka. Tapi ya memang tidak merdeka sebenar-benarnya merdeka. Ada negosiasi demi negosiasi, ada transaksi, ada narasi, ada histori, ada hal-hal lain yang membatasi. Entah batas diri sendiri maupun batas dari institusi lain, orang lain dan hal-hal lainnya yang sengaja diciptakan. Dalihnya beraneka warns, demi kemaslahatan, demi keselamatan, demi kesejahteraan dan demi-demi lainnya.

Hidup memang begitu. Manusia individu bertemu individu lainnya. Kemudian mereka berkelompok, membentuk masyarakat, adat, budaya. Sosial terbentuk, lalu sebagian dari kelompok membuat sistem, membuat aturan, hingga ada kelompok-kelompok baru, masyarakat baru. Berkembang. Menduduki wilayah, membentuk negara. Negara membuat aturan, aturan yang mengatur semua dari hal remeh hingga yang dianggap penting dan diatasnamakan untuk kepentingan orang banyak.

Bahkan, baru-baru ini. Ada negara, yang sedikit kurang repot (kalau memang tidak patut untuk disebut kurang kerjaan) sedang mengajukan rancangan undang-undang dalam salah satu seni.

Tentu diprotes dan pergerakan penolakan pun berima. Rancangan Undang-undang itu dinilai elastis. Kurang relevan dan yang jelas, membatasi (kalau tidak mau disebut mengawasi).

Tanpa dibatasi, manusia sudah punya batas.

Foto batas. Yang kuambil sendiri waktu memgantri untuk membeli materai di Kantor Pos Pekanbaru, 2018

Kalau manusia membuat batas untuk orang lain, kupikir, itu sudah kelewat batas. Kecuali, telah dibuat kesepakatan atas batas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s