Politik Asu

2 Desember lalu, saya terlibat dalam dunia politik. Mengikuti kegiatan salah seorang Anggota DPRD Provinsi sekaligus ikut dalam sosialisasi (baca: kampanye) di enam Kabupaten/Kota. Jarak tempuh masing-masing kota/kabupaten, antara 2 jam hingga 5 jam perjalanan. Bahkan ada yang 7 jam perjalanan. Dengan catatan: Jarak pacu kendaraan kami diangka 100 Km/jam. Tidak ada lampu merah dan jarang berhenti, kecuali untuk mengisi bahan bakar, membeli air minum, makan atau sekadar untuk pipis. Selebihnya, tancap gas!

Pernah suatu waktu saya meyetir sekitar 16 jam. Dengan durasi, 7 jam perjalanan berangkat. Istirahat 2 jam, kegiatan 8 jam. Di susul perjalanan pulang yang hampir sama. Itu waktu terlama dan terpanjang saya dalam meyetir. Dalam satu kali perjalanan. WOW!

Selain kondisi perjalanan, kendaraan yang kami pakai juga sangat mempengaruhi. Terutama kepada stamina dan kenyamanan. Baru-baru ini, saya menggunalan jenis kendaraan yang berbeda, transmisi manual dan menempuh pernalanan sekitar 2,5 jam. Hasilnya, terasa capeknya.

Melihat politik dari dalam, meski nggak yang paling dalam. Udah bikin sekaligus menunjukan sesuatu yang berbeda. Tapi tetap ada kesamaan. Sama ketika dulu belum pernah terlibat di dalamnya. Kesamaannya politik yang lihat dari luar dan dari dalam adalah bahwa politik bukanlah seni, politik bukanlah sarana, politik adalah murni strategi.

Cuma, pertanyaan saya adalah apakah memang strategi berpolitik itu selalu dengan segala cara?

Kalau di wikipidiea, politik bearti seperti ini.

Prakteknya adalah ya begitu, saya menemui berbagai macam “pendukung”. Yang saya temui, sejauh ini, tidak ada yang tulus dalam hubungan politik. Pasti selalu ada tendensi. Ada keinginan. Ada harapan. Dari A untuk B. Hampir begitu selalu. Bahkan dari yang menurutku paling tulus pun, ada yang ternyata ada tendensi. Termasuk saya.

Memang ternyata angel tenan dadi menungso. Bajingan-bajingan.

Cuok!

BGST!

Ya meskipun, politik bisa disebut juga sebagai seni berkomunikasi. Entah lewat apapun caranya. Baik citra visual, citra diri atau citra lain yang sengaja diciptakan untuk bisa mencapai tujuan.

(tarik napas)

Lalu, bagaimana sebaiknya sikap kita terhadap politik? Tergantung yang mana dulu. Politik dengan partai politik itu udah jelas beda soalnya.

Dadi pie ki?

Ngene, ora kabeh wong iso dadi politisi. Tapi iso berpolitik. Jancuk!

Mbuh lah, emosi aku. Tai kucing lah!

Aku mau pulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s