Kemandirian yang Terkolaborasi

Permisi mau bilang numpang lewat. Tapi masa iya numpang lewat doang. Sekalian buat Jejak yang Maknawi, kan lebih seru (nampaknya).

Lagi suka nyepi, nih. Padahal otak lagi ramai. Hati lagi ditabuh.

Kalau saya selalu percaya kepada “kemandirian yang terkolaborasi”.

Saya sejak Desember 2018 lalu berkeliling Sumatera, lebih tepatnya di 6 Kabupaten di Provinsi Riau.

Dari Pinggir pesisir Selat Malaka yang berbatasan dengan Malaysia sampai ke daerah Transmigrasi (yang dulu hanya tahu di buku pejalaran IPS waktu Setingkat SMP).

Beberapa waktu lalu, saya mendaftar untuk jadi relawan di Entikong, Kalimantan. Yang daftar ratusan bahkan mungkin ribuan. Saya menjadi satu yang tidak lolos.

Setelah kupikir, program yang saya ajukan belum sesuai dengan kebutuhan mereka. Waktu itu saya mengajukan program “Pohon Impian”. Sebagaimana yang mungkin sudah teman-teman di sini ketahui. Program pohon impian adalah program bagaimana kita berani mengajukan, mananam, merawat hingga mencapai impian itu. Program yang setelah saya pikir ulang, nggak dibutuhkan untuk saat ini di daerah Entikong.

Jangankan di Entikong, di beberapa daerah di Riau yang saya kunjungi akhir-akhir ini, mau masuk ke Desa nya saja harus melewati Hutan Tanamana Industri yang berhektarhektar. Jalanan tanah, berdebu dan berkerikil. Kayaknya aneh kalau ada kata Mimpi.

Tapi, meski begitu, Gawai dan internet itu memang cukup membantu “melek informasi”. Karena hal itu benar-benar membawa informasi yang (mungkin) dibutuhkan oleh penduduk transmigrasi.

Itu kenapa saya mempercayai bahwa “kemandirian yang terkolaborasi” adalah penting. Mandiri dalam menentukan sikap kebijakan daerah, mandiri dalam pengelolaan sumber daya alam dan/kemandirian dalam perkembangan umat manusia (di daerah sekitar) yang dikolaborasikan dengan berbagai elemen (baik masyarakat maupun sosial, budaya, agama maupun kesenian).

Sederhananya: kita bertanggung jawab atas lingkungan kita sendiri (selebihnya, diluar lingkungan kita adalah tanggung jawab “lingkungan” lain pula).

Kolaborasi Nasional pun demikian. Yang bisa kita lakukan adalah Mandiri. Kolaborasi dalam gagasan yang disesuaikan dengan unsur kedaerahan masing-masing.

Contoh, Sumatera saat ini nggak butuh MRT seperti halnya di Jakarta.

Pelatihan kerajinan kerang tidak mungkin dilaksanakan di Wilayah kaki Gunung Merapi. Begitu sebaliknya. Orang-orang pantai tidak bisa dilatih untuk bercocok tanam laiknya penduduk dataran tinggi.

Maka sekali lagi, mengutip kalimat Iksan Skuter, bahwa kita perlu dan wajib berkarya sesuai dengan konteks kita masing-masing.

Salam Ramu,

Tory Nugroho Bicaksana

(Kawan Ceritamu)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s