Menjadi Manusia

Adakah yang tahu, perjalanan kehidupan seseorang bakal menjadi apa?

Yang bisa diketehui adalah ia mau jadi apa. Tentang perjalanannya, ia bisa mempersiapkan, mencari informasi dan tentu memperhitungkan dari berbagai aspek yang dibutuhkan.

Sekitar 3 tahun lalu, saya ditanya oleh seorang pelatih. Sebelumnya, pertanyaan ini beruntun. Dari pertanyaan apakah saya bisa memindahkan kursi, lalu jika kursi ini sekarang beratnya 3x lipat, apakah bisa? Sebagian peserta masih menjawab bisa, aku yang tidak.

Padahal, waktu itu hanya soal bisa atau tidak memindahkan kursi, bukan bearti saya yang memindahkan. Pertanyaan sang pelatih masih berlanjut, bagaimana jika berat kursi sekarang menjadi 100x lipat dari berat pertama? Saya sejak pertanyaan kedua sudah duduk, tanda tidak bisa mengatasi persoalan itu.

Sesi pelatihan masih berlanjut. Sampai pada ujung sesi, Sang Pelatih bertanya kepada orang-orang yang masih berdiri dan menyanggupi mengangkat kursi tersebut. Teman-teman tahu bagaimana mereka memindahkan? Yap! Menggunakan alat bantu crane, alat berat.

Woh, kok saya nggak kepikiran? Kok saya mikirnya kalau minta saya yang memindahkan bearti ya “saya” bukan alat. Itulah kalau ngukur persoalan dengan perasaan. Belum jadi tersentuh titik persoalannya udah nyerah duluan. Gimana mau mindahin yang beratnya 20kg x 100? Rasa-rasanya nggak bisa, kan? Mana mungkin. Itu sanggah saya.

Baru akhirnya saya terangguk, bahwa pendekatan rasional sebelum emosianal itu amatlah penting. Hal ini pula yang membedakan manusia dengan hewan.

Oh, Tuhan.

Saya masih tertegun. Belum selesai rasa heran dan belum terbuka sempurna alur logika saya, pertanyaan selanjutnya muncul, “Siapa yang di sini sudah merasa Sukses, silakan berdiri”.

Beberapa peserta nampak ragu untuk berdiri. Ada yang mantap berdiri, dan ada yang mantap duduk menatap orang-orang yang berdiri dan ragu mau duduk apa ganti berdiri. Saya, termasuk yang duduk.

Saya pikir, saya belum cukup sukses. Huft. Tangan saya kaitkan dilutut, setengah bersila.

Sang Pelatih bertanya, tidak ada gesture merendahkan, kaget, kasihan atau hal lain, hanya ingin bertanya khusus yang tidak berdiri. Pertanyaannya diulang sekali lagi, “Apakah ada yang hari ini merasa sudah sukses, silakan berdiri”. Disusul dengan pernyataan dan pertanyaan tengang apa itu sukses? Apakah kita yang berdiri saat ini memang belum sukses?

Sampai akhirnya saya sadar, bahwa sukses adalah ketika harapan sudah sesuai dengan kenyataan. Toh ada beberapa impian yang terwujud. Termasuk salah satunya adalah mengikuti kelas tersebut adalah contoh sukses saya. Maka, dengan malu-malu, saya beranjak berdiri. Diikuti yang lain.

Memang, pikiran saya bisa menjadi penjajah pertama bagi apapun yang terjadi bagi saya. Tapi, yang perlu diingat, sebagaimana yang diingatkan Pelatih saya adalah Manusia adalah makhluk yang lebih dari pikiran dan perasaannya. Pikiran dan perasaan ada dibawah kendali manusia.

See You, Dude!

Regards,

Tory Nugroho Bicaksana

(Kawan ceritamu)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s