Ilmuku Ilmu Cacing (Part 1)

Saya perkenalkan kembali, saya Tory. Tory Nugroho Bicaksana, lengkapnya. Nama lahir saya, Tri Nugroho. Nama Ijasah saya, Tri Nugroho Nanang Wisnu. Nama pena pertama saya, Torianu Wisnu. Di lingkungan rumah, orang memanggil saya Nugroho, Mas Nug dan/atau Groho. Di luar rumah, saya dipanggil Tory, Wisnu dan/atau Mas Tor. Oh, ada lagi, sebagian memanggil, Nang, juga Nu.

Dan, akhirnya berlabuh pada nama Tory Nugroho Bicaksana.

FYI, sewaktu kecil. Saya ada nama alias. Nama ini sempat populer dari pada nama asli saya sendiri. Setelah memposisikan diri saya sebagai Nugroho (Asli) tanpa alias, maka berangsur pula nama kecil itu musnah. Meski masih ada satu tiga atau beberapa orang yang memanggil nama itu.

Sekarang, kamu tetap bisa memanggil saya dengan Nug, Nugroho, Groho, Tory atau Sayang. Hahaha. Yang memanggil sayang, saya doakan Hidupnya bahagia. Yang nggak memanggil sayang, juga bahagia. Karena bahagiamu, tak ada sangkut pautnya dengan panggilanmu ke orang lain. Bahagiamu adalah bahagiaku, bahagiaku, bisa jadi bahagiamu juga.

Karena indikator bahagia banyak macamnya. Maka, kamu tentukan sendiri kadar bahagiamu seperti apa dan bagaimana.

Gini, saya mau cerita tentang bulan Juni dan Juli.

Bulan Juni tahun 2019 ini, jadi bulan besar bagi kami sekeluarga. Pertama, di Bulan Juni tanggal 20. Saya menikah. Dua minggu kemudian, adek saya, Asma. Menikah. Pernikahan yang menggemberikan, mengharukan, mengejutkan dan semoga menjadi keberkahan.

Begini awalnya, saya merantau ke Pekanbaru selama 6 bulan. Di sana, saya bertemu cakap dengan tetangga saya. Kami mengobrol tentang bagaimana menghadapi masalah, bagaimana menyikapi masalah dan bagaimana menyelesaikan masalah.

Awalnya kami bertemu sesekali pada event tahunan di Kampung. Baik event 17an, sholat hari raya atau pun kegiatan lain yang melibatkan seluruh masyarakat Kampung Pohon. Kinerja alam memang menakjubkan. Bagaimana tidak?

Mozaik kami bertambah, mekar, bertebaran ke seluruh penjuru dunia.

Saya berada di Pulau Sumatera. Dia berada di Jawa. Bentangan kami mencapai ribuan KM. Butuh waktu berhari-hari melalui jalur darat, butuh waktu 2 jam lewat udara. Tapi, rentang waktu itu sirna ditelan WA. Seperti sirnanya tangis dalam isak, yang digantikan dengan tangis bahagia.

Tidak-tidak. Tidak seperti itu. Itu hanya sedikit hiperbola untuk mempersonifikasikan peristiwa. Lagian, apa ada sekarang hal yang sederhana dan apa adanya? Banyak hal yang dilebihkan, kan? Kata guruku Prasetya M Brata dalam sebuah status FBnya, kalau sudah terlalu, bearti tidak baik. Apa-apa yang terlalu, jadi tidak baik. Terlalu cinta, terlalu manis. terlalu! Kata Bang Haji Rhoma Irama.

Yang sedang-sedang saja, yang pas. Yang sesuai dengan kadarnya.

Kebahagian dan takjub kami berlanjut. Pada suatu malam, diujung telefon. Saya menyatakan dan mengatakan keseriusan setelah mengalami tanda-tanda bahwa Jodoh telah tiba. Perlu disambut.

Bagaimana keyakinan tentang jodoh muncul? Saya sendiri tidak tahu. Yang bisa saya katakan adalah hanya sebagian kronologinya. Saya menyebutnya bahwa keyakinan ini tumbuh alami. Tidak bisa dipaksa.

Saya katakan padanya, “aku serius. Tapi tidak buru-buru, sekaligus tidak lama-lama”. Sakdermo.

Dia bertanya, “Kok Bisa?”

Sekali lagi saya katakan bahwa saya tidak tahu, tetapi saya bisa menyampaikan kronologinya.

***

14 April 2019

Saya tiba di rumah. Seminggu berlalu, Mbak Atun mengabarkan bahwa akan tiba seorang lelaki yang bermaksud berkenalan dengan saya (sebagai wali dek Asma) dengan Ibu.

Saya tidak bisa meyembunyikan penerimaan saya pada kesan pertama melihatnya. Peringainya baik. Begitu saya menilai.

Sebagai wali, maka saya ceritakan kondisi dek Asma. Dan sesekali saya bertanya tentang kesibukan, sekolah dan beberapa hal lain yang saya pikir perlu untuk tahu. Pertemuan pertama berakhir dengan menyenangkan sekaligus melegakan.

Yang saya pikirkan hanya satu, “saya mudahkan urusanmu”. Pamrihnya, biar urusanku juga dimudahkan olehNya. Amalan ini yang saya biasakan sejak beberapa tahun lalu. Memudahkan urusan orang lain. Apalagi ini tentang maksud baik seorang lelaki. Hal-hal terkait perpindahan amanah, kebiasaan dan lain sebagainya, bisa dikomunikasikan lebih lanjut dalam waktu yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Jadi, meski waktu itu sang calon adik ipar tidak mengatakan maksud dan tujuannya bertamu, saya dan ibu sudah mafhum.

Seminggu berselang, ia kembali dengan bapak kandungnya dan kakak iparnya. Tanpa ba-be-bo, Bapak menyampaikan lamaran. Saya, dan khususnya Dek Asma menerima dengan lapang dada. Tanpa dipaksa maupun diintimidasi dari pihak mana pun.

Kalian tahu apa yang dikatakan dek Asma setelah lamaran? Kamu, jagaian jodoh orang berapa tahun? Behahahaha. Kan ngeselin. Tapi bener emang. Seketika itu, saya sempat bilang bahwa Pacaran tidak ada gunanya. KAMPRET!!!

Jodoh tidak lahir dari pacaran. Meski pun memang ada yang pacaran lalu berjodoh, tapi sudah banyak contoh juga pacaran sama siapa nikahnya sama siapa. Meueueheue. Pukpukpuk.

Dek Asma dan Suaminya (mereka akhirnya menikah pada 2 Juli 2019, saya yang menikahkan). Tanpa pacaran sama sekali. Bahkan setelah lamaran pun mereka tidak berkomunikasi satu sama lain. Eh ya Allah, tak sanggup saya begitu. Waduuu duh duh duuuuh.

CATATAN: TENTANG JODOH DAN PERNIKAHAN INI JANGAN DISAMAKAN, TIAP ORANG BERBEDA DAN SAYA MENYADARI HAL ITU. SEBAGAIMANA ADA KANTONG DORAEMON YANG SELALU MEWUJUDKAN KEINGINAN NOBITA, MAKA ADA BERBAGAI JALAN/CARA UNTUK MEWUJUDKAN NIKAH. Kamu mau pilih mana?

Bersambung…

Advertisements

1 thought on “Ilmuku Ilmu Cacing (Part 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s