Bagaimana Membuat Nasihat?

Saya berteman dengan tiga orang yang berbeda. Saya sebut teman pertama, kedua dan ketiga. Praktis, kita berempat adalah teman. Saya lebih dulu mengenal teman yang pertama, menurutku dia teman yang baik. Suka menolong dan ya kadang-kadang bayarin makan. Sampai akhirnya saya menyatakan bahwa teman pertama ini cukup berbahaya. Beberapa kali saya mempergoki teman saya ini kencan dengan seorang yang bukan pacarnya, apalagi suaminya. Entah bagaimana caranya, saya selalu punya informasi mengenai teman pertama ini. Di mana pun, kapan pun. Dan informasi ini selalu benar, tingakt validnya 95%.

Suatu kali, saya mengajak teman pertama ini untuk pergi. Di tengah percakapan, saya menemukan bahwa beberapa hari lalu, ia pergi dengan seorang yang entah tidak saya ketahui statusnya.

Teman saya tidak bisa menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Jawabannya hanya tangis. Tangis yang tentu tidak jelas apa maksudnya. Menangis karena ketahuan saya dan menyesal. Atau menangis karena telah melakukan hal itu. Ambigu.

Dua tahun kemudian saya berpisah dengan ketiga teman saya. Saya tidak lagi bergabung di komunitas yang sama. Meski masih sesekali melakukan komunikasi lewat WA, saya nggak ngerti perkembangan dari teman pertama, kedua dan ketiga.

Katanya, teman pertama ini putus dengan teman dekatnya, dengan gebetannya dan balik sama mantan pacarnya. Teman kedua dan ketiga dikabarkan menikah. Iya, teman kedua dan ketiga ini menjadi suami istri. Saya sempat menyampaikan ucapan selamat melalui telepon.

Informasi tentang pernikahan teman kedua dan ketiga ini jauh-jauh hari. Saya tahu malah dari orang yang nggak saya kenal. Lho, saya sendiri juga nggak ngerti. Kenapa selalu ada informasi yang tiba-tiba datang. Semalam, saya bermimpi soal teman pertama. Makanya, pagi ini saya ceritakan ini. Kenapa?

Beberapa waktu lalu, setelah pernikahan teman kedua dan ketiga. Saya mendapat informasi bahwa, teman pertama ini dekat dengan teman kedua. Selingkuh maksudmu? Nggak ngerti. Tidak ada bukti visual, tapi saya tahu. Dari mana saya tahu? Ada pokoknya. Aneh kan? Lha gimana, saya ya nggak berani ngomong bahwa teman saya itu pada selingkuh. Meskipun, secara indikasi bisa juga disebut dengan “nakal”. Meskipun, kata nakal juga belum utuh mewakili. Mungkin, lebih pas bila dikatakan dengan serong. Nah, tingkat ketajaman serongnya ini yang nggak saya tahu.

Ketika cerita ini saya tanyakan ke dua orang, satu menjawab, bahwa ia tidak akan berani melakukan apapun. Itu bukan urusanku. Kalau pun aku di posisimu, aku bakal bilang ke yang laki. Orang kedua bilang, kaya gitu sensasinya beda. Godain suami atau istri orang itu lain rasanya. Katanya.

Saya selalu bertanya pada diri apa yang perlu saya lakukan? Iya benar mereka bertiga adalah teman saya, dua di antaranya sudah menikah. Dan jika sudah masuk urusan rumah tangga, bukannya kita nggak boleh ikut campur urusan mereka? Atau, sampai mana sih batas tidak mau tahu dan tidak boleh berurusan itu?

Saya selalu berdoa bahwa apa yang saya ketahui ini salah. Jika benar, semoga segera diketahui oleh yang punya tanggung jawab dan hak. Dan saya lebih memilih apa yang saya tahu dari perilaku serong ini adalah salah. 1000% salah.

Saya nggak tahu bagaimana menasehati salah satu dari mereka. Semua masih tahap dugaan. Dan semoga dugaan ini salah.

Jika kamu di posisiku, apa yang kamu lakukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s