Dear Teman

Dear Teman,

Anggaplah aku tidak pernah tahu apa yang terjadi pada kalian. Anggaplah aku tidak pernah tahu apa yang kalian lakukan di belakang orang-orang. Anggaplah aku tidak pernah tahu apa yang kalian sembunyikan. Dan anggaplah aku tidak pernah tahu apa yang kalian rahasiakan.

Maaf, ini perlu aku lakukan karena kalian adalah temanku. Aku kenal kalian. Aku tahu kalian. Teman-temanku yang bajingan banyak. Tapi mereka nggak ada yang makan temen sendiri. Yang alim juga banyak. Teman-temanku dari kalangan bawah hingga atas ada. Jaringanku banyak. Aku, ngomong di sini bukan untuk mengintimidasi apalagi menakut-nakuti. Aku hanya ingin mengingatkan. Karena aku nggak mungkin bisa ngomong langsung di depanmu.

Tapi, di satu sisi. Aku selalu berharap bisa berjumpa dengan kalian di saat yang tepat. Ketidak sengajaan yang di sengaja. Bagaimana caranya? Aku tidak tahu. Tapi, yang sering terjadi dalam hidupku memang seperti itu.

Tidak sengaja ketemu jodoh ketika di Pekanbaru, misalnya. Atau tidak sengaja tahu perilaku kalian di belakang orang-orang yang kalian bilang sayang.

Jika pesan ini kalian baca, syukur. Berhenti, cukup sampai di situ saja. Jangan kau lanjutkan lagi. Yang sudah, biarlah. Yang belum, udah kalian nggak tepat melakukan seperti itu. Kalian tahu, apa yang kalian lakukan itu Jahat.

Kamu lagi, ada apa gerangan? Hingga kamu tega dan rela? Apakah memang semenantang itu? Okay lah kalian berdua sama-sama suka dan sayang. Tapi, ya mbok mikir. Kamu udah beristri dan kamu ya jangan ganggu suami orang. Apalagi itu adalah suami dari temenmu sendiri.

Kamu rela mengorbankan hubungan pertemanan demi kesenanganmu itu? Okay. Silakan bersenang-senang dengan kesenangan yang palsu.

Sebetulnya aku sendiri tak mau tahu apa yang kalian lakukan. Tapi ternyata, tahu temennya jadi bajingan atas temennya sendiri itu kok aku nggak terima. Kalau pun mau jadi bajingan, ya silakan. Tapi nggak sama temen sendiri juga.

Teman, anggaplah aku tidak tahu apa-apa. Dan benar-benar nggak tahu apa yang terjadi kepadamu. Namun, sebagai temanmu, aku mengingatkanmu: Kamu akan menuai apa yang kamu tanam.

Kamu masih punya pilihan untuk jadi istri kedua misalnya. Atau, ya kamu punya pilihan untuk tidak mengganggu urusan rumah tangga orang lain. Apalagi itu rumah tangga temenmu sendiri.

Walau bagaimana pun, apa yang kalian lakukan itu salah dan tidak bisa dibenarkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s